Tampilkan postingan dengan label Askep Jantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Askep Jantung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2012

Askep VSD (Ventrikular Septal Defek)

Askep VSD (Ventrikular Septal Defek) - Askep VSD (Ventrikular Septal Defek) Setelah kita kemarin membahas mengenai VSD (Ventrikular Septal Defek) yang ditinjau dari segi pengetahuan medisnya maka sesuai yang telah dijanjikan maka kali ini Blog Keperawatan akan mencoba sharing mengenai askep VSD dan semoga bisa berguna serta dapat memberikan manfaat sahabat semuanya.

Seperti biasanya dalam melaksanakan asuhan keperawatan dan pada kali ini adalah asuhan keperawatan pasien VSD (Ventrikular Septal Defect) yang pertama kali dilakukan adalah kita para perawat akan melakukan pengkajian untuk bisa menegakkan diagnosa keperawatan VSD ini.

askep VSD (Ventrikular Septal Defek, Blog Keperawatan

1. Pengkajian Umum Pada Askep VSD :
  1. Ukur barat badan,panjamg badan,lingkar kepala secara teratur.
  2. Gambarkan secara umum ukuran dan bentuk tubuh,postur saat istirahat, adanya edema dan lokasi.
  3. Bentuk wajah untuk melihat kelainan seperti : Syndrome Down.
2. Pengkajian Pernafasan
  1. Gambarkan bentuk dada,simetris,adanya insisi,selang di dada atau penyimpa ngan lain.
  2. Gambarkan penggunaan otot-otot pernafasan tambahan : gerakan cuping hidung, retraksi sub sternal dan interkostal atau sub clavia.
  3. Tentukan rata-rata pernafasan dan keteraturannya.
  4. Auskultasi dan gambarkan bunyi nafas,kesamaan bunyi nafas,berkurangnya / tidak adanya udara nafas,stridor,crakles,wheezing.
  5. Gambarkan adanya tangisan bila tidak di intubasi.
  6. Bila diintubasi catat ukuran pipa endotrakeal,jenis dan setting ventilator.
  7. Ukur saturasi oksigen dengan menggunakan oximetri pulse dan analisa gas darah.
3. Pengkajian Kardiovaskular
  1. Tentukan denyut jantung dan iramanya.
  2. Gambarkan bunyi jantung termasuk murmur.
  3. Tentukan poin maksimum impuls ( PMI ),poin dimana bunyi jantung terdengar paling keras.
  4. Tentukan tekanan darah.Sebutkan ekstremitas yang digunakan dan ukuran yang dipakai.Pemeriksaan tidak boleh lebih dari 1 kali.
  5. Kaji warna kuku,membran mukosa bibir.
  6. Gambarkan warna bayi atau anak ( mungkin dapat menunjukkan latar belakang masalah jantung,pernafasan atau darah ).Sianosis,pucat,jaundice, mouting,
  7. Gambarkan nadi perifer,pengisian kapiler ( kurang dari 3 detik )
  8. Pastikan monitor,parameter dan alarm posisi “On”
4. Pengkajian gastrointestinal
  1. Tentukan adanya distensi abdomen,meningkatnya lingkar perut,kulit yang terang ( bright ),adanya eritema dinding abdomen,tampaknya peristaltik, bentuk usus yang dapat dilihat,status umbilikus..
  2. Tentukan adanya tanda-tanda regurgitasi,waktu yang berhubungan dengan pemberian makan,bila memakai NGT tentukan karakter,jumlah residu,warna, konsisten,PH vairan lambung.
  3. Palpasi area hati.
  4. Gambarkan bising usus,ada atau tidak ada.
  5. Gambarkan jumlah,warna,konsistensi feces.
5. Pengkajian genitourinari
  1. Gambarkan bentuk abnormal dari genetalia.
  2. Gambarkan jumlah ( ditentukan oleh berat badan ), PH dan berat jenis untuk menggambarkan status cairan.
  3. Timbang berat badan ( tindakan yang paling sering dilakukan untuk mengkaji status cairan.
6. Pengkajian neuromuskuloskeletal
  1. Gambarkan gerakan bayi : random,bertujuan,twitching,spontan,tingkat akti fitas dengan stimulasi,evaluasi saat kehamilan dan persalinan.
  2. Gambarkan sikap dan posisi bayi/anak : fleksi ayau ekstensi.
  3. Observasi reflek moro,sucking,babinski,plantar dan reflek lain yang diharapkan.
  4. Tentukan tingkat respon.
  5. Gambarkan adanya perubahan pada lingkar kepala ( bila ada indikasi ) ukuran, tahanan fontanel, dan garis sutura.
  6. Gambarkan respon pupil pada bayi yang usia kehamilannya lebih dari 32 minggu.
7. Pengkajian kulit
  1. Gambarkan beberapa perubahan warna,daerah kemerahan,tanda iritasi,abrasi, khususnya dimana terdapat daerah penekanan oleh infus atau alat yang lain kontak dengan bayi/anak,juga observasi dan catat bahan yang digunakan untuk perawatan kulit.
  2. Tentukan tekstur dan turgor kulit : kering,lembut, dan lain-lain.
  3. Gambarkan adanya rash,luka kulit atau tanda lahir.
  4. Gambarkan kateter infus dan jarum yang digunakan dan observasi adanya tana infiltrasi.
  5. Gambarkan adanya infus parenteral : lokasi;arteri,vena perifer,umbilical, sentral.Jenis infus ( obat,saline,dektrose,elektrolit,lemak,TPN ).
8. Temperatur
  1. Gambarkan suhu kulit dan axilla.
  2. Gambarkan hubungan dengan suhu lingkungan.
Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Timbul Pada Pasien VSD :
  1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan bentuk lubang,disfungsi miokard.
  2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kongesti paru.
  3. Volume cairan berlebih berhubungan dengan akumulasi cairan ( edema ).
  4. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan tubuh berhubungan dengan nutrisi tidak adekuat.
  5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan suplai dan kebutuhan oksigen tidak seimbang / ketidakmampuan / kelemahan sekunder terhadap penurunan curah jantung.
  6. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, kongestif paru.
  7. Gangguan psikologis pada anak dan atau keluarga berhubungan dengan masa perawatan di rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA
  • Carpenito,L.J ( 1999 )
  • Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan.E.d.2. ECG Jakarta.( 2000 )
  • Diagnosa keperawatan dan masalah kolaboratif Ed.8.EGC Jakarta
  • Doengoes,marylin E ( 1989 ) Nursing Care Plans.F.A Davis company USA Philadelphia
Semikian tadi sahabat mengenai askep Ventricular Septal Defect (VSD) dan semoga bisa berguna serta dapat memberikan manfaat.

Read more > Askep VSD (Ventrikular Septal Defek)

Senin, 09 Juli 2012

Askep Nyeri Dada

Askep Nyeri Dada. Gejala nyeri khas untuk keluhan penyakit jantung adalah nyeri dada kiri yang digambarkan seperti tertimpa benda berat, ditekan, atau diremas, nyeri berlangsung 2-5 menit, menjalar ke bahu kiri dan kedua lengan terutama pada permukaan tangan dan lengan bawah. Nyeri dada juga dapat menembus ke punggung, dasar dari leher, rahang, gigi, dan ulu hati. Nyeri yang demikian disebut dengan angina pektoris.

Nyeri dada adalah keluhan yang paling banyak dirasakan oleh para pasien dan penderita panyakit jantung koroner. Nyeri dada juga bisa disebabkan oleh berbagai macam penyebab, bisa dari otot atau tulang, jantung, paru-paru, saluran pencernaan, atau bisa pula karena masalah psikologis. Dan ciri khas nyeri dada infark miokard sama seperti yang telah disebutkan di atas.

Sebenarnya askep nyeri dada / asuhan keperawatan nyeri dada ini tidak jauh beda dengan askep angina pektoris yang telah dibahas pada postingan sebelumnya. Hanya perbedaan sedikit saja dengan askep angina pektoris.

Untuk kali ini Blog Keperawatan akan mencoba sharing sedikit mengenai askep nyeri dada ini bila ditinjau tentunya dari tinjauan keperawatan. Bila sahabat ingin mendapatkan penjelasan mengenai nyeri dada bila dilihat dari konsep medisnya sahabat bisa mendapatkannya di sini tinjauan medis nyeri dada.

askep nyeri dada, Blog Keperawatan

Pada pengkajian yang dilakukan pada asuhan keperawatan nyeri dada ini meliputi dua hal, yaitu pengkajian primer dan juga pengkajian sekunder.

Pada pengkajian primer ini seperti halnya pada tahap resusitasi jantung paru yang mengenai akan ABC yaitu Airway, Breathing, Circulation. Walaupun tahapan resusitasi jantung paru ini berbeda bila kita mengkaji dengan pasien nyeri dada. Penilaian ABC ini juga masuk pengkajian primer ini yaitu :
  1. Airway. Yang kita kaji sebagai seorang perawat pada tahap airway ini diantaranya yaitu bagaimana kepatenan jalan nafas penderita, apakah ada sumbatan / penumpukan sekret di jalan nafas penderita, dan bagaimana bunyi nafasnya, apakah ada bunyi nafas tambahan pada penderita tersebut.
  2. Breathing. Yang kita kaji dalam hal ini yaitu bagaimana pola nafas penderita, frekuensi pernafasan serta juag kedalaman dan iramanya nafas penderita. Apakah penderita juga menggunakan otot bantu pernafasan, apakah ada bunyi nafas tambahan pula ?
  3. Circulation. Yang kita kaji dalam sirkulasi penderita nyeri ada ini diantaranya yaitu tanda-tanda vital yang meliputi akan tekanan darah, suhu, nadi, respirasi, heart rate. Selain itu yang dikaji adalah nadi perifer dan nadi karotis yaitu mengenai kualitas (isi dan tegangan), Terus kita kaji juga capillary refillnya, apakah ada akral dingin, sianosis atau oliguria. Dan juga kita kaji apakah ada penurunan kesadaran yang terjadi.
Selanjutnya adalah mengenai pengkajian sekunder pada askep nyeri dada. Pada pengkajian sekunder ini yang kita perlu kaji diantaranya yaitu :
  1. Lokasi Nyeri Dada. Pengkajian mengenai lokasi nyeri ini bisa membantu dalam menegakkan diagnosa apakah nyeri dada tersebut berasal dari jantung apakah dari organ lainnya. Dimana tempat mulainya, penjalarannya (ciri khas nyeri dada koroner : Nyeri dada ini dimulai dari sternal menjalar ke leher, dagu atau bahu sampai lengan kiri bagian ulna).
  2. Sifat Nyeri Dada. Khas nyeri dada yang berasal dari jantung doiantaranya yaitu : perasaan penuh, rasa berat seperti kejang, meremas, menusuk, mencekik / rasa terbakar. Sensasi nyeri dada ini akan dirasakan berbeda pada tiap pasien nyeri dada koroner.
  3. Ciri Rasa Nyeri Dada. Yang dikaji pada bagian ini adalah derajat nyeri, lamanya nyeri, berapa kali timbul dalam jangka waktu tertentu. Ini akan membantu dalam mendiagnosa alnya pada penyakit jantung koroner.
  4. Kronologis Nyeri Dada. Yang kita kaji adalah awal timbul nyeri serta perkembangannya secara berurutan. Timbulnya saat aktifitas atau kah sedang beristirahat atau sedang tertidur.
  5. Keadaan pada waktu serangan. Apakah timbul pada saat-saat / kondisi tertentu. Hampir sama seperti yang disebutkan di atas tentang kondisi pada waktu serangan nyeri dada terjadi.
  6. Faktor yang memperkuat / meringankan rasa nyeri misalnya sikap / posisi tubuh, pergerakan, tekanan. Apakah nyeri dada berkurang dengan istirahat atau tidak ?
Selanjutnya kita melangkah kepada diagnosa keperawatan nyeri dada. Diagnosa keperawatan pada asuhan keperawatan pasien dengan nyeri dada yang bisa timbul diantaranya yaitu :
  1. Perubahan rasa nyaman nyeri (nyeri akut) behubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri, inflamasi jaringan.
  2. Perubahan perfusi jaringan (otot jantung) berhubungan dengan penurunan aliran darah.
  3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan metabolisme jaringan.
Selanjutnya menginjak pada intervensi keperawatan askep nyeri dada ini. Ada beberapa intervensi keperawatan yang dilakukan bila memberikan asuhan keperawatan nyeri dada ini dan prinsip tindakan serta intervensinya adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan suasana nyaman dan lingkungan teraupetik pada pasien.
  2. Mengobservasi serta memonitor keadaan umum pasien serta tanda-tanda vital.
  3. Menganjurkan pasien untuk bedrest total.
  4. Memberikan posisi yang nyaman bagi pasien dengan posisi semifowler / fowler.
  5. Mengkaji keluhan pasien.
  6. Kolaborasi tindakan medis.
Beberapa hal tindakan keperawatan dan berkolaborasi dengan medis diantaranya :
  • Merekam EKG 12 lead.
  • mengambil sample darah untuk pemeriksaan laboratorium darah yang berkaitan dengan enzim jantung dan sejenisnya.
  • Kolaborasi pemberian oksigen serta obat-obatan seperti halnya analgesik, penenang, nitrogliserin, Calcium antagonis dan observasi efek samping obat.
Read more > Askep Nyeri Dada

Rabu, 30 Mei 2012

Askep Infark Miokard Akut

Askep Infark Miokard Akut. Infark miokard adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. Biasanya didasari oleh adanya aterosklerosis pembuluh darah koroner. Nekrosis miokard akut hampir selalu terjadi akibat penyumbatan total arteri koronaria oleh trombus yang terbentuk pada plaqus aterosklerosis yang tidak stabil. Itu adalah pengertian Infark Miokard Akut menurut Soeparman, (1996:1098). Merupakan pengertian infark miokard bila ditinjau dari segi tinjauan medis. Seperti biasa kita akan sedikit berbagi mengenai askep infark miokard akut yang tentunya ditinjau dari segi keperawatan. Dan semoga askep infark miokard akut (AMI) ini dapat memberikan manfaat.

Sepert biasa dalam hal melakukan asuhan keperawatan yang pertama kali dilakukan oleh seorang perawat adalah melakukan pengkajian. Demikian pula bila kita melakukan pengkajian askep infark miokard akut (AMI) ini.

askep infark miokard akut, Blog Keperawatan

Pengkajian pada askep infark miokard akut akan segera kita mulai.
Pada tahap pengkajian ini tetapkan penatalaksanaan dasar untuk mendapatkan informasi tentang status terakhir pasien sehingga semua penyimpangan yang terjadi dapat segera diketahui.
1. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko.
Faktor resiko yang kita kaji adalah diantaranya :
  1. Penyakit pembuluh darah arteri.
  2. Serangan jantung sebelumnya.
  3. Riwayat keluarga atas penyakit jantung / serangan jantung positif.
  4. Kolesterol serum tinggi (diatas 200 mg/L).
  5. Perokok
  6. Diet tinggi garam dan tinggi lemak.
  7. Kegemukan.( BB idealTB –100 ± 10 % )
2. Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajian kardiovaskuler maka kita dapat menunjukan bahwa nyeri dada berkurang dengan istirahat atau pemberian nitrat (temuan yang paling penting) dan hal tersebut seringkali juga disertai dengan tanda dan gejala :
  1. Perasaan ancaman pingsan dan atau kematian
  2. Diaforesis.
  3. Mual dan muntah kadang-kadang.
  4. Dispneu.
  5. Sindrom syok dalam berbagai tingkatan (pucat, dingin, kulit lembab atau basah, turunnya tekanan darah, denyut nadi yang cepat, berkurangnya nadi perifer dan bunyi jantung).
  6. Demam (dalam 24 – 48 jam ).
3. Kaji nyeri dada sehubungan dengan :
  • Faktor perangsang.
  • Kualitas. Berdentum-dentum, tertikam, rasa menyesakkan nafas atau seperti tertindih barang berat.
  • Lokasi. Retrosternal dan prekordial kiri, radiasi menurun ke lengan kiri bawah dan pipi, dagu, gigi, daerah epigastrik dan punggung.
  • Beratnya.
4. Pemeriksaan Diagnostik / Pemeriksaan Penunjang.
  1. EKG, menyatakan perpindahan segmen ST, gelombang Q, dan perubahan gelombang T.
  2. Berdasarkan hasil sinar X dada terdapat pembesaran jantung dan kongestif paru.
  3. Test tambahan termasuk pemeriksaan elektrolit serum, lipid serum, urinalisis, analisa gas darah (AGD).
  4. Enzim jantung (Gawlinski, 1989)
  • Kreatinin kinase (CK) – isoenzim MB mulai naik dalam 6 jam, memuncak dalam 18 – 24 jam dan kembali normal antara 3 – 4 hari, tanpa terjadinya neurosis baru. Enzim CK – MB ssering dijadikan sebagai indikator Infark Miokard.
  • Laktat dehidrogenase (LDH) mulai meningkat dalam 6 – 12 jam, memuncak dalam 3 – 4 hari dan normal 6 –12 hari.
  • Aspartat aminotransferase serum (AST) mulai meningkat dalam 8 – 12 jam dan bertambah pekat dalam 1 – 2 hari. Enzim ini muncul dengan kerusakan yang hebat dari otot tubuh.
Melangkah pada tahap selanjutnya yaitu diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan askep infark miokard akut menurut Doenges et all (2000:86) adalah :

1. Nyeri (akut) berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner.
Tujuan Yang Diharapkan : Tidak ada keluhan nyeri dada atau nyeri dapat terkontrol.
Kriteria Hasil :
  1. Menyatakan nyeri dada hilang atau terkontrol.
  2. Menggunakan penggunaan tehnik relaksasi.
  3. Menunjukkan menurunnya tegangan, rileks dan mudah bergerak.
Intervensi Keperawatan :
  • Pantau dan catat karakteristik nyeri, catat laporan verbal dan non verbal, respon hemodinamik.
  • Ambil gambaran lengkap terhadap nyeri, lokasi, intensitas (0-10), lamanya, kualitas dan penyebaran.
  • Berikan lingkungan yang tenang dan theraupetik, aktivitas perlahan dan tindakan yang nyaman.
  • Bantu dalam melakukan tehnik relaksasi, misalnya nafas dalam.
  • Periksa tanda-tanda vital.
  • Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
  • Berikan obat dengan kolaborasi medis sesuai dengan indikasi, contoh analgetik.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay oksigen miokard dan kebutuhan, adanya iskemia / nekrosis jaringan miokard.
Tujuan Yang Diharapkan : Meningkatkan tingkat aktivitas untuk perawatan diri.
Kriteria Hasil :
  1. Mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur dengan tekanan darah dalam batas normal.
  2. Kulit hangat, merah muda dan kering
Intervensi Keperawatan :
  • Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan tekanan darah sebelum, selamat, sesudah aktivitas sesuai indikasi
  • Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas pada dasar nyeri.
  • Anjurkan pasien menghindari peningkatan tekanan abdomen, contoh mengejar saat defekasi.
  • Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas, contoh bangun dari kursi bila tidak nyeri, ambulasi dan istirahat selama 1 jam setelah makan.
  • Kaji ulang tanda gejala yang menunjukkan tidak toleransi terhadap aktivitas.
3. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi, irama dan konduksi elektrikal, penurunan preload atau peningkatan tahanan vasukeler sistemik, otot infark.
Tujuan Yang Diharapkan : kecepatan atau irama jantung mampu mempertahankan curah jantung adekuat
Kiteria Hasil :
  1. Mempertahankan stabilitas hemodinamik, contoh tekanan darah dan curah jantung.
  2. Melaporkan penurunan episode dispnea.
  3. Mendemonstrasikan peningkatan toleransi.
Intervensi Keperawatan :
  • Auskultasi tekanan darah dan evaluasi kualitas dan kesamaan nadi sesuai indikasi.
  • Pantau adanya murmur atau gesekan dan auskultasi bunyi nafas.
  • Pantau frekuensi jantung dan irama, catat adanya disritmia.
  • Catat respon terhadap aktivitas dan peningkatan istirahat dengan cepat.
  • Berikan makanan kecil, mudah dikunyah, batasi asupan kafein; contoh : kopi, coklat.
  • Pantau data laboratorium, contoh enzim jantung, GDA dan elektrolit.
4. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran darah sekunder akibat vasokontriksi, pembentukan tromboembali.
Tujuan Yang Diharapkan : Perfusi jaringan perifer tetap adekuat.
Kriteria Hasil :
  1. Mendemonstrasikan perfusi adekuat secara individual, contoh kulit hangat dan kering.
  2. Nadi perifer kuat, tanda vital dalam batas normal.
  3. Tidak ada edema, bebas nyeri atau ketidaknyamanan.
Intervensi Keperawatan :
  • Lihat pucat, sianosis, kulit dingin atau lembab, catat kekuatan nadi perifer.
  • Dorong latihan kaki aktif atau pasif.
  • Pantau pernafasan, catat kerja pernafasan.
  • Pantau pemasukan dan perubahan haluaran urine.
  • Pantau dan laboratorium, contoh : GDA, BUN, kreatinin, elektrolit.
5. Resiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi organ (ginjal), peningkatan natrium atau retensi air, peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma.
Tujuan Yang Diharapkan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan biokimia.
Kritera Hasil :
  1. Mempertahankan keseimbangan cairan dengan tekanan darah dalam batas normal.
  2. Tidak ada distensi vena perifer dan edema dependen, paru bersih.
  3. Berat badan stabil.
Intervensi Keperawatan :
  • Auskultasi bunyi nafas untuk adanya krakels.
  • Ukur masukan atau haluaran, catat penurunan pengeluaran, hitung keseimbangan cairan.
  • Timbang berat badan tiap hari.
  • Berikan diet natrium rendah.
  • Kolaborasi medis dengan pemberian obat diuretik, contoh furosemid (lasix).
6. Ansietas berhubungan dengan perubahan kesehatan, ancaman kehilangan atau kematian.
Tujuan Yang Diharapkan : Ansietas berkurang atau teratasi.
Kriteria Hasil :
  1. Mengenal perasaannya, mengidentifikasi penyebab dan faktor yang mempengaruhi.
  2. Menyatakan penurunan ansietas.
  3. Mendemonstrasikan pemecahan masalah positif.
Intervensi Keperawatan :
  • Dorong mengekspresikan dan jangan menolak perasaan marah, kehilangan dan takut.
  • Orientasikan pasien atau orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan. Tingkatkan partisipasi pasien bila mungkin.
  • Dorong pasien atau orang terdekat untuk mengkomunikasikan dengan seseorang berbagai pertanyaan dan masalah.
  • Berikan periode istirahat, lingkungan tenang.
  • Jawab semua pertanyaan secara nyata, berikan informasi konsisten.
  • Dorong kemandirian, perawatan sendiri dan pembuatan keputusan dalam rencana pengobatan.
  • Dorong keputusan tentang harapan setelah pulang.
  • Berikan anti cemas sesuai indikasi.
Demikian tadi sahabat mengenai askep infark miokard akut dan semoga bisa berguna serta juga dapat untuk memberikan manfaat.
Read more > Askep Infark Miokard Akut

Sabtu, 19 Mei 2012

Askep Angina Pektoris

Askep Angina Pektoris. Setelah kemarin kita membahas mengenai angina pektoris yang dilihat dari segi medis dan tinjauan keilmuan, maka kembali kepada fokus Blog Keperawatan ini yaitu share mengenai asuhan keperawatan dan khususnya mengenai askep angina pektoris dan semoga pula makalah askep angina pektoris ini dapat memberikan manfaat.

Langsung saja sahabat menuju ke asuhan keperawatan angina pektoris ini, karena tinjauan medisnya tentang angina pektoris ini telah dibahas pada postingan sebelumnya ini.
Pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan askep angina pektoris dimulai dari :
1. Aktifitas / Istirahat.
Gejala yang dikaji : Kelelahan, kelemahan, pola hidup monoton, nyeri dada bila bekerja, terbangun karena merasakan nyeri dada.
Tanda Yang didapatkan : Dispnoe saat bekerja.
2. Sirkulasi.
Gejala yang dikaji : Riwayat penyakit hipertensi, riwayat penyakit jantung, obesitas.
Tanda yang didapatkan : Tekanan darah normal, bisa meningkat atau menurun, disritmia, takikardia. Pada bunyi jantung didapatkan normal : S4 lambat atau murmur sistolik transien lambat (disfungsi otot papilaris) mungkin ada saat nyeri. Kulit / membran mukosa lembab, dingin, pucat karena adanya vasokonstriksi.
3. Makanan atau cairan.
Gejala yang dikaji : Mual, muntah, nyeri ulu hati / epigastrium saat makan, diet tinggi kolesterol / lemak, garam, kafein, minuman beralkohol.
Tanda yang didapatkan : Distensi pada gaster.
4. Integritas Ego.
Gejala yang dikaji : Stressor pada kerja, keluarga, lain-lain.
Tanda yang didapatkan : Mudah marah, cemas.
5. Ketidaknyamanan / Nyeri.
Gejala yang dikaji dalam nyeri ini diantaranya yaitu :
  • Nyeri dada substernal, anterior yang menyebar ke rahang, leher, bahu, dan ekstremitas atas (lebih pada kiri daripada kanan).
  • Kualitas nyeri : Ringan sampai sedang, tekanan berat, tertekan, terjepit, terbakar.
  • Durasi : Biasanya kurang dari 15 menit, kadang-kadang lebih dari 30 menit (rata-rata 3 menit).
  • Faktor pencetus : Nyeri dada sehubungan dengan kerja fisik atau emosi besar, seperti marah atau hasrat seksual, olahraga pada suhu ekstem, atau mungkin tidak dapat diperkirakan dan atau terjadi saat istirahat.
  • Faktor penghilang : Nyeri dada mungkin responsif terhadap mekanisme penghilang tertentu (contoh : dengan istirahat, obat anti angina).
  • Nyeri dada baru atau terus menerus yang telah berubah frekuensi, durasinya, karakter atau dapat diperkirakan (contoh, tidak stabil, bervariasi).
Tanda yang didapatkan : Wajah berkerut, meletakkan pergelangan tangan pada midsternum, memijit tangan kiri,tegangan otot, gelisah, respon otomatis , contoh : timbul takhikardi, perubahan tekanan darah.

Selanjutnya kita menginjak kepada diagnosa keperawatan pada pasien dengan askep angina pektoris ini.Berikut beberapa diagnosa keperawatan yang timbul dan bisa ditegakkan pada askep angina pektoris ini diantaranya yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemia miokard.
Intervensi Keperawatan :
  • Kaji gambaran dan faktor-faktor yang memperburuk nyeri.
  • Observasi tanda-tanda vital tiap 5 menit pada setiap serangan angina pektoris.
  • Ciptakan lingkungan yang tenang, batasi pengunjung bila perlu.
  • Letakkan klien pada bedrest total selama episode angina (24-30 jam pertama) dengan posisi semi fowler.
  • Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan.
  • Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.
  • Kolaborasi medis dalam hal pemberian obat.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan curah jantung.
Intervensi Keperawatan :
  • Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman.
  • Berikan periode istirahat yang adekuat, bantu dalam pemenuhan aktifitas perawatan diri sesuai dengan indikasi.
  • Catat warna kulit dan kualittas nadi.
  • Tingkatkan aktifitas klien secara teratur.
  • Pantau EKG dengan sering dan rekam EKG bila ada keluhan angina pektoris.
3. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
Intervensi Keperawatan :
  • Jelaskan semua prosedur tindakan.
  • Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.
  • Dorong keluarga dan teman untuk menganggap klien seperti sebelumnya.
  • Beritahu klien program medis yang telah dibuat untuk menurunkan / membatasi serangan akan datang dan meningkatkan stabilitas jantung.
  • Kolaborasi.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi Keperawatan :
  • Tekankan perlunya mencegah serangan angina.
  • Dorong untuk menghindari faktor/situasi yang sebagai pencetus episode angina.
  • Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, perubahan diet dan olah raga.
  • Tunjukkan/ dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama aktifitas, hindari tegangan.
  • Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina.
  • Dorong klien untuk mengikuti program yang telah ditentukan.
Demikian tadi sahabat mengenai askep angina pektoris dan semoga bisa memberikan manfaat.
Read more > Askep Angina Pektoris

Sabtu, 12 Mei 2012

Askep Jantung Rematik

Askep Jantung Rematik.Penyakit jantung rematik adalah penyakit peradangan sistemik akut ataupun kronik yang merupakan suatu reaksi autoimun oleh infeksi Beta Streptococcus Hemolyticus Grup A yang mekanisme perjalanannya belum diketahui, dengan satu atau lebih gejala mayor yaitu Poliarthritis migrans akut, Karditis, Korea minor, Nodul subkutan dan Eritema marginatum. Itu adalah pengertian penyakit jantung rematik menurut kaidah bahasa dan juga sisi medisnya.

Untuk selanjutnya yang akan sedikit disajikan di sini adalah mengenai askep jantung rematik yang dinilai dari segi keperawatan dan juga asuhan keperawatan pada pasien dengan demam rematik. Semoga askep jantung rematik ini dapat memberikan manfaat.

askep jantung rematik, Blog Keperawatan

Seperti biasanya dalam melakukan asuhan keperawatan tentunya dimulai dari sebuah pengkajian. Pengkajian yang dilakukan dalam memberikan askep jantung rematik adalah dimulai dengan mengumpulkan data mengenai hal sebagai berikut :
  1. Yang pertama kali tentunya adalah mengenai fungsi jantung itu sendiri.
  2. Status nutrisi dari pasien.
  3. Toleransi terhadap aktivitas dan sikap pasien terhadap pembatasan aktivitas yang dilakukan.
  4. Gangguan pola tidur.
  5. Tingkat ketidaknyamanan yang dirasakan pasien demam rematik.
  6. Kemampuan pasien dalam hal mengatasi masalah.
  7. Pengetahuan pasien dan keluarga akan penyakit jantung rematik yang diderita.
Pengkajian di atas adalah mengetahui secara umum dari hal yang yang diketahui oleh pasien serta keluarga mengenai penyakit jantung rematik. Nah berikutnya adalah menginjak pada pengkajian pada segi keperawatannya sebagai salah satu proses keperawatan. Yang dikaji berikutnya pada askep jantung rematik adalah :
  • Riwayat penyakit jantung rematik.
  • Monitor komplikasi jantung bila terjadi.
  • Auskultasi bunyi jantung, biasanya yang khas pada pasien dengan jantung rematik ini adalah bunyi jantung melemah dengan irama derap diastole.
  • Pengkajian terhadap tanda-tanda vital pasien.
  • Pengkajian terhadap rasa nyeri.
  • Pengkajian terhadap adanya tanda peradangan pada sendi.
  • Pengkajian terhadap adanya lesi pada kulit.
Selanjutnya adalah mengenai diagnosa keperawatan jantung rematik. Beberapa diagnosa keperawatan yang bisa muncul dalam memberikan askep jantung rematik diantaranya yaitu :
1. Penurunan curah jantung (COP) berhubungan dengan stenosis katub.
Tujuan yang hendak dicapai adalah COP ( Cardiac Out Put) meningkat.
Kriteria Hasil :
  1. Pasien menunjukkan penurunan tingkat dyspnoe yang dialaminya.
  2. Pasien ikut serta dalam berpartisipasi pada aktivitas serta mendemonstrasikan peningkatan toleransi.
Intervensi Keperawatan :
  • Pantau tanda-tanda vital seperti halnya : tekanan darah, nadi apikal dan juga nadi perifer.
  • Pantau irama dan juga frekuensi jantung.
  • Tirah baring pada posisi semifowler yaitu 45 derajat.
  • Dorong pasien melakukan tehnik managemen stress (lingkungan tenang, meditasi).
  • Bantu aktivitas pasien sesuai indikasi bila pasien mampu.
  • Kolaborasi medis dalam hal pemberian O2 dan juga terapi.

2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output, ketidakseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan.
Tujuan yang hendak dicapai adalah pasien dapat bertoleransi secara optimal pada aktifitas yang dilakukannya.
Kriteria Hasil :
  1. Respon verbal kelelahan berkurang
  2. Melakukan aktivitas sesuai batas kemampuannya (denyut nadi aktivitas tidak boleh lebih dari 90X/menit, tidak nyeri dada).
Intervensi Keperawatan :
  • Hemat energi pasien selama masa akut.
  • Pertahankan tirah baring sampai hasil laborat dan status klinis pasien membaik.
  • Sejalan dengan semakin baiknya keadaan umum, pantau peningkatan bertahap pada tingkat aktivitas yang dilakukan.
  • Ajarkan untuk berpartisipasi dalam aktivitas kebutuhan sehari-hari.
  • Buat jadwal aktivitas dan juga jadwal istirahat.
  • Ajarkan pada anak /orang tua bahwa pergerakkan yang tidak disadari adalah dihubungkan dengan korea dan temporer.
  • Bila terjadi chorea, lindungi dari kecelakaan, bedrest dan berikan sedasi sesuai program dari medis.
3. Nyeri berhubungan dengan respon inflamasi pada sendi (poliarthritis).
Tujuan yang hendak dicapai adalah tidak terjadi nyeri pada pasien.
Kriteria Hasil :
  1. Nyeri pasien berkurang atau hilang.
  2. Klien terlihat rileks.
  3. Ekspresi wajah tidak terlihat tegang / cemas.
  4. Pasien dapat merasakan nyaman, tidur dengan tenang dan tidak merasakan sakit / nyeri.
Intervensi Keperawatan :
  • Kaji tingkat nyeri dengan menggunakan skala nyeri.
  • Berikan tindakan yang memberikan kenyamanan (perubahan posisi sering, lingkungan tenang dan theraupetik, pijatan pungung dan tehnik manajemen stress).
  • Minimalkan pergerakkan untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri.
  • Berikan terapi hangat dan dingin pada sendi yang mengalami sakit.
  • Lakukan distraksi contohnya dengan melakukan tehnik relaksasi dan khayalan.
  • Kolaborasi medis dalam hal pemberian obat analgetik, anti peradangan dan antipiretik.
  • Kolaborasi dengan fisiotherapi sesuai dengan persetujuan dari medis.
4. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya filtrasi glomerulus, retensi natrium dan air, meningkatnya tekanan hidrostatik.
Tujuan yang hendak dicapai adalah keseimbangan volume cairan tercapai.
Kriteria Hasil :
  1. Tidak terjadi oedema.
  2. Volume cairan stabil, dengan keseimbangan antara pamasukan dan pengeluaran (balance cairan).
Intervensi Keperawatan :
  • Pantau haluaran urine, catat jumlah dan warna.
  • Pantau keseimbangan masukan dan pengeluaran selama 24 jam.
  • Berikan makanan yang mudah dicerna dalam porsi kecil, dan sering.
  • Kolaborasi medis dalam pemberian obat diuretik.

5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, rasa sakit waktu menelan dan peradangan pada tonsil disertai eksudat.
Tujuan yang hendak dicapai adalah tidak terjadi penurunan asupan nutrisi pada pasien.
Kriteria Hasil :
  1. Nafsu makan pasien bertambah.
  2. Pasien tidak merasa mual, muntah.
  3. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.
Intervensi Keperawatan :
  • Beri makan sedikit tapi sering (termasuk cairan).
  • Masukkan makanan kesukaan dalam diet yang diberikan.
  • Anjurkan untuk makan sendiri, bila mungkin (kelemahan otot dapat membuat keterbatasan).
  • Memilih makanan dari daftar menu yang disediakan.
  • Atur makanan secara semenarik mungkin diatas nampan.
  • Atur jadwal pemberian dalam makanan.
  • Berikan makanan yang bergizi tinggi dan berkualitas.
Demikian tadi sahabat-sahabat semuanya mengenai askep jantung rematik dan semoga askep pasien jantung rematik ini bisa memberikan manfaat bagi kita semuanya.
Read more > Askep Jantung Rematik

Selasa, 08 Mei 2012

Askep CHF Gagal Jantung Kongestif

Askep Gagal Jantung Kongestif.Gagal jantung kongestif adalah suatu keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi badan untuk keperluan metabolisme jaringan dalam hal ini nutrisi dan juga oksigen pada keadaan tertentu, sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi.

Mekanisme yang mendasar tentang gagal jantung kongestif / CHF termasuk kerusakan sifat kontraktil dari jantung, yang mengarah pada curah jantung kurang dari normal. Demikian pengertian gagal jantung kongestif yang telah diposting sebelumnya ditinjau dari segi medis. Karena Blog Keperawatan ini juga berorientasi kepada asuhan keperawatan maka kali ini akan di share mengenai askep CHF gagal jantung kongestif dan semoga apa yang akan disharing tentang askep CHF gagal jantung kongestif ini akan memberikan manfaat.

Setelah memahami akan apa yang dimaksud dengan penyakit CHF / gagal jantung kongestif di atas maka langsung saja ke topik pembahasan yaitu mengenai askep gagal jantung kongestif CHF ini.

askep gagal jantung kongestif, askep CHF, Blog Keperawatan

Pengkajian yang dilakukan dalam memberikan asuhan keperawatan pasien dengan CHF / gagal jantung kongestif dimulai dengan :
  1. Aktifitas dan Istirahat. Yang dikaji dalam hal ini adalah keluhan pasien gagal jantung kongestif yang berupa adanya kelelahan / exhaustion dalam kesehariannya, mengalami insomnia, kurang istirahat, sakit / nyeri dada, dispnoe saat istirahat atau beraktifitas.
  2. Sirkulasi. Yang dikaji dalam hal ini adalah riwayat hipertensi, bedah jantung, endokarditis, anemia, septik syok, penyakit jantung, disritmia, atrial fibrilasi, ascites, hepatomegali, sianosis, takikardia.
  3. Integritas Ego / Status mental. Yang dikaji dalam hal ini ansietas (cemas), kuatir dan takut, gelisah, marah, iritabel / peka, stress sehubungan dengan penyakitnya, sosial finansial.
  4. Eliminasi. Yang dikaji dalam hal ini adalah penurunan volume urine, urine yang pekat, nocturia(kencing malam hari), diare dan konstipasi.
  5. Makanan dan Cairan. Yang dikaji dalam hal ini adalah kehilangan nafsu makan, nausea, vomiting, oedema di ekstremitas bawah, asites.
  6. Kebersihan Diri. Yang dikaji dalam hal ini adalah kelelahan selama aktivitas perawatan diri.
  7. Neurosensori. Yang dikaji dalam hal ini adalah kelemahan, pening, pingsan, lethargia, bingung, disorientasi, iritabel.
  8. Rasa Nyaman. Yang dikaji dalam hal ini adalah sakit dada ,kronik / akut angina pektoris, nyeri abdomen kanan atas dan sakit pada otot.
  9. Pernapasan / Respirasi. Yang dikaji dalam hal ini adalah dispnoe pada waktu aktifitas, takipnoe, riwayat penyakit paru kronis.
  10. Interaksi Sosial. Yang dikaji dalam hal ini adalah penurunan keikutsertaan dalam dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
Selanjutnya kita berlanjut dalam diagnosa keperawatan pada CHF / gagal jantung kongestif.
Diagnosa keperawatan pada askep CHF gagal jantung kongestif yang muncul diantaranya yaitu :
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial / perubahan inotropik, perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik, perubahan struktural, ditandai dengan :
  • Peningkatan frekuensi jantung (takikardia) : perubahan gambaran pola EKG, disritmia.
  • Perubahan tekanan darah (hipertensi/hipotensi).
  • Penurunan haluaran urine.
  • Kulit dingin kusam.
  • Bunyi jantung ekstra (S3 dan S4).
Kriteria Hasil :
  • Menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung.
  • Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.
  • Melaporkan penurunan episode angina(nyeri dada), dispnea.
Intervensi Keperawatan :
  • Auskultasi nadi apical, kaji frekuensi dan juga irama jantung.
  • Palpasi nadi perifer.
  • Pantau Tekanan Darah.
  • Kolaborasi medis dalam pemberian obat dan juga pemberian oksigen yang menggunakan kanul nasal O2 atau masker.
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemia pada miocard ditandai dengan kelelahan, kelemahan, adanya disritmia, perubahan tanda-tanda vital, dispnoe, berkeringat, pucat.
Kriteria Hasil : Pasien dapat menunjukkan berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan, dapat memenuhi perawatan diri, menurunnya kelemahan dan kelelahan.
Intervensi Keperawatan :
  • Periksa dan ukur tanda-tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas, khususnya bila pasien menggunakan obat-obatan yang berpengaruh pada tekanan darah dan heart rate seperti vasodilator,diuretic dan penyekat beta.
  • Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat adanya takikardi, disritmia, dispnea, berkeringat dan pucat.
  • Evaluasi dalam hal peningkatan intoleran aktivitas.
  • Kolaborasi dengan rehab medik.
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah jantung), meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium / air.
Kriteria Hasil : Pasien dapat mendemonstrasikan volume cairan yang stabil dengan keseimbangan masukan dan juga pengeluaran, bunyi nafas bersih / jelas, tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima, berat badan stabil dan tidak ada edema, menyatakan pemahaman tentang pembatasan cairan individual.
Intervensi Keperawatan :
  • Pantau pengeluaran urine, catat jumlah dan warna saat dimana diuresis terjadi.
  • Pantau / hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam (balance cairan).
  • Pantau Tanda-tanda vital (tekanan darah)
  • Kaji bising usus. Catat keluhan adanya anoreksia, mual, distensi abdomen dan konstipasi.
  • Pertahakan duduk atau tirah baring dengan posisi semifowler selama fase akut.
  • Kolaborasi medis dalam pemberian obat sesuai indikasi.
4. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler alveolus.
Kriteria Hasil : Pasien dapat mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenisasi adekuat pada jaringan ditunjukkan oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan, berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas kemampuan.
Intervensi Keperawatan :
  • Pantau bunyi nafas, catat adanya mengi, krekles.
  • Ajarkan / anjurkan klien batuk efektif, nafas dalam.
  • Berikan perubahan posisi sesering mungkin.
  • Kolaborasi medis dalam pemberian obat dan juga oksigen bola diperlukan.
Demikian sahabat mengenai askep CHF / gagal jantung kongestif dan semoga askep CHF ini bisa memberikan manfaat.
Read more > Askep CHF Gagal Jantung Kongestif

Rabu, 25 April 2012

Askep Jantung Koroner

Askep Jantung Koroner.Penyakit jantung koroner adalah suatu manifestasi khusus dan juga aterosklerosis (penumpukan plak)pada pembuluh darah arteri koroner dan hal ini berakibat kepada pasokan darah yang kaya akan oksigen yang dialirkan ke otot - otot jantung mengalami hambatan.Itu sekilas mengenai penyakit jantung koroner yang telah dibahas sebelumnya.Sekarang di yang akan kita share kembali adalah mengenai asuhan keperawatan jantung koroner.Dan semoga artikel mengenai askep jantung koroner ini bisa bermanfaat serta berguna.

Penyakit jantung koroner dan juga miocard infark merupakan respons iskemik dari miokardium yang di sebabkan karena adanya penyempitan arteri koronaria secara permanen ataupun sementara. Oksigen dalam hal ini dibutuhkan oleh sel-sel miokardial, untuk metabolisme aerob di mana Adenosine Triphospate di bebaskan untuk energi jantung pada saat istirahat membutuhakan 70 % dari oksigen. Banyaknya oksigen yang di perlukan untuk kerja jantung di sebut dan dikenal dengan Myocardial Oxygen Cunsumption (MVO2), yang dinyatakan oleh percepatan jantung, kontraksi miocardial dan tekanan pada dinding jantung.

Jantung yang normal dapat dengan mudah menyesuaikan terhadap peningkatan tuntutan tekanan oksigen dangan menambah percepatan dan kontraksi untuk menekan volume darah ke sekat-sekat jantung. Pada jantung yang mengalami hambatan serta obstruksi aliran darah ke miocardial, suplai darah tidak dapat mencukupi terhadap kebutuhan yang diperlukan. Keadaan adanya obstruksi letal maupun sebagian dapat menyebabkan anoksia dan suatu kondisi menyerupai glikolisis aerobic berupaya memenuhi kebutuhan oksigen.Penimbunan asam laktat merupakan akibat dari glikolisis aerobik yang dapat sebagai predisposisi terjadinya disritmia dan kegagalan jantung. Hipokromia dan asidosis laktat mengganggu fungsi ventrikel. Kekuatan kontraksi menurun, gerakan dinding segmen iskemik menjadi hipokinetik.

askep jantung koroner,Blog Keperawatan

Berikut adalah askep jantung koroner
Pengkajian.Yang diperlukan dalam pengkajian asuhan keperawatan jantung koroner adalah :
a. Aktivitas dan istirahat : Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur.
b. Sirkulasi.Yang dikaji diantaranya yaitu :
  • Mempunyai riwayat Infark Miocard Akut, penyakit jantung koroner, CHF, Tekanan darah tinggi, diabetes melitus.
  • Tekanan darah bisa normal / meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time, adanya aritmia pada gambaran EKG.
  • Suara jantung, suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan jantung ventrikel kehilangan kontraktilitasnya.
  • Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang tidak berfungsi.
  • Heart rate mungkin meningkat atau mengalami penurunan (tachycardia / bradicardia).
  • Irama jantung mungkin ireguler atau bisa juga didapatkan normal.
  • Edema terjadi pada : Jugular vena distension, odema anasarka, crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung.
  • Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku.
c. Eliminasi : Bising usus didapatkan bisa meningkat atau juga bisa normal.
d. Nutrisi : Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan turgor kulit, berkeringat banyak, muntah dan perubahan berat badan.
e. Hygiene perseorangan : Dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saat melakukan aktivitas.
f. Neuro Sensori : Nyeri kepala yang hebat, perubahan emosi.
g. Kenyamanan :
  • Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan beristirahat atau dengan nitrogliserin / ISDN.
  • Lokasi nyeri dada bagian depan substernal yang mungkin menyebar sampai ke lengan, rahang dan wajah.
  • Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat yang pernah di alami.
  • Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah yang menyeringai, perubahan pustur tubuh, menangis, penurunan kontak mata, perubahan irama jantung, EKG, tekanan darah, respirasi dan warna kulit serta tingkat kesadaran.
h. Respirasi : Dispnea dengan atau tanpa aktivitas, batuk produktif, riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged.
i. Interaksi sosial : Stress, kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor, emosi yang tak terkontrol.
j. Pengetahuan : Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi, perokok.
k. Studi diagnostik
  1. ECG menunjukan : adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dari iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis.
  2. Enzym dan isoenzym pada jantung CKMB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
  3. Elektrolit : ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia.
  4. Whole blood cell : leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan.
  5. Analisa gas darah (BGA) : Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis / akut.
  6. Kolesterol / trigliserid : Mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
  7. Rontgen Thorax : Mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau aneurisma ventrikuler.
  8. Echocardiogram : Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
  9. Exercise stress test (treadmill): Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu stress / aktivitas.

Diagnosa keperawatan dan juga intervensi keperawatan pada asuhan keperawatan pasien jantung koroner :
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri dada, menunjukan adanya penurunan tekanan dan cara berelaksasi.
Rencana :
  • Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
  • Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran).
  • Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.
  • Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman.
  • Ajarkan dan anjurkan pada pasien untuk melakukan tehnik relaksasi.
  • Kolaborasi dalam : Pemberian oksigen dan obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesik)
  • Ukur tanda vital sebelum dan sesudah dilakukan pengobatan dengan narkosa.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemiapada miokard.
Tujuan : Setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.
Rencana :
  • Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
  • Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
  • Anjurkan pada pasien agar tidak mengedan pada saat buang air besar (BAB).
  • Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
  • Tunjukan pada pasien tentang tanda-tanda fisik bahwa aktivitas melebihi batas.

3. Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
Tujuan : Tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.
Rencana :
  • Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan).
  • Kaji kualitas nadi.
  • Catat perkembangan dari adanya S3 dan S4.
  • Auskultasi suara nafas.
  • Dampingi pasien pada saat melakukan aktivitas.
  • Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
  • Kolaborasi dalam : pemeriksaan serial EKG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia.
4. Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
Tujuan : Selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
Rencana :
  • Kaji adanya perubahan kesadaran.
  • Inspeksi adanya pucat, cyanosis, kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
  • Kaji adanya tanda Homans (pain in calf on dorsoflextion), erythema, edema.
  • Kaji respirasi (irama, kedalaman dan usaha pernafasan).
  • Kaji fungsi gastrointestinal (bising usus, abdominal distensi, konstipasi).
  • Monitor intake dan out put.
  • Kolaborasi dalam : Pemeriksaan BGA, BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.

5. Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.
Tujuan : Tidak terjadi kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.
Rencana :
  • Auskultasi suara nafas (kaji adanya crackless).
  • Kaji adanya jugular vein distension, peningkatan terjadinya edema.
  • Ukur intake dan output (balance cairan).
  • Kaji berat badan setiap hari.
  • Najurkan pada pasien untuk mengkonsumsi total cairan maksimal 2000 cc/24 jam.
  • Sajikan makan dengan diet rendah garam.
  • Kolaborasi dalam pemberian deuritika.


DAFTAR PUSTAKA
  • Barbara C long. (1996). Perawatan Medical Bedah. Pajajaran Bandung.
  • Carpenito J.L. (1997). Nursing Diagnosis. J.B Lippincott. Philadelpia.
  • Carpenito J.L. (1998.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8 EGC. Jakarta.
  • Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.
  • Hudack & Galo. (1996). Perawatan Kritis. Pendekatan Holistik. Edisi VI, volume I EGC. Jakarta.
  • Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran. Media aesculapius Universitas Indonesia. Jakarta.
  • Kaplan, Norman M. (1991). Pencegahan Penyakit Jantung Koroner. EGC Jakarta.
Read more > Askep Jantung Koroner
 
 
Copyright © Komokid
Blogger Theme by Blogger Designed and Optimized by Tipseo