Tampilkan postingan dengan label Nyeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyeri. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 September 2012

Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri

Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. Demikian pengertian nyeri dari Brunner & Suddarth, 2002. Nyeri ini hanya dapat dirasakan oleh diri seseorang tanpa dapat dirasakan oleh orang lain, dan mencakup akan pola fikir, aktifitas seseorang secara langsung, dan juga perubahan hidup seseorang. Nyeri merupakan tanda dan gejala penting yang dapat menunjukkan telah terjadinya gangguan secara fisiologikal.

Nyeri merupakan hal yang kompleks, banyak faktor yang mempengaruhi pengalaman seseorang terhadap nyeri. Bagi seorang perawat ataupun tenaga kesehatan yang lain harus mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi nyeri tersebut dalam menghadapi pasien / klien yang mengalami nyeri. Hal ini sangat penting dalam pengkajian nyeri yang akurat dan memilih terapi nyeri yang baik. Pada kesempatan ini Blog Keperawatan akan menshare sedikit mengenai faktor yang mempengaruhi nyeri dan semoga bisa berguna serta bermanfaat.

faktor yang mempengaruhi nyeri, Blog Keperawatan

Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri ada beberapa macam. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri dan diantaranya yaitu :
  1. Usia. Usia dalam hal ini merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak dan orang dewasa (Potter & Perry (1993). Perbedaan perkembangan yang ditemukan antara kedua kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak dan orang dewasa bereaksi terhadap nyeri. Anak-anak kesulitan untuk memahami nyeri dan beranggapan kalau apa yang dilakukan perawat dapat menyebabkan nyeri. Anak-anak yang belum mempunyai kosakata yang banyak, mempunyai kesulitan mendeskripsikan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua atau perawat. Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi (Tamsuri, 2007).
  2. Jenis Kelamin. Faktor jenis kelamin ini dalam hubungannya dengan faktor yang mempengaruhi nyeri adalah bahwasannya laki-laki dan wanita tidak mempunyai perbedaan secara signifikan mengenai respon mereka terhadap nyeri. Masih diragukan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang berdiri sendiri dalam ekspresi nyeri. Misalnya anak laki-laki harus berani dan tidak boleh menangis dimana seorang wanita dapat menangis dalam waktu yang sama. Penelitian yang dilakukan Burn, dkk. (1989) dikutip dari Potter & Perry, 1993 mempelajari kebutuhan narkotik post operative pada wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria.
  3. Budaya. Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka. Hal ini meliputi bagaimana bereaksi terhadap nyeri (Calvillo & Flaskerud, 1991).Mengenali nilai-nilai budaya yang memiliki seseorang dan memahami mengapa nilai-nilai ini berbeda dari nilai-nilai kebudayaan lainnya membantu untuk menghindari mengevaluasi perilaku pasien berdasarkan harapan dan nilai budaya seseorang. Perawat yang mengetahui perbedaan budaya akan mempunyai pemahaman yang lebih besar tentang nyeri pasien dan akan lebih akurat dalam mengkaji nyeri dan respon-respon perilaku terhadap nyeri juga efektif dalam menghilangkan nyeri pasien (Smeltzer& Bare, 2003).
  4. Keluarga dan Support Sosial. Faktor lain yang juga mempengaruhi respon terhadap nyeri adalah kehadiran dari orang terdekat. Orang-orang yang sedang dalam keadaan nyeri sering bergantung pada keluarga untuk mensupport, membantu atau melindungi. Ketidakhadiran keluarga atau teman terdekat mungkin akan membuat nyeri semakin bertambah. Kehadiran orangtua merupakan hal khusus yang penting untuk anak-anak dalam menghadapi nyeri (Potter & Perry, 1993).
  5. Ansietas ( Cemas ). Meskipun pada umumnya diyakini bahwa ansietas akan meningkatkan nyeri, mungkin tidak seluruhnya benar dalam semua keadaaan. Riset tidak memperlihatkan suatu hubungan yang konsisten antara ansietas dan nyeri juga tidak memperlihatkan bahwa pelatihan pengurangan stres praoperatif menurunkan nyeri saat pascaoperatif. Namun, ansietas yang relevan atau berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap nyeri. Ansietas yang tidak berhubungan dengan nyeri dapat mendistraksi pasien dan secara aktual dapat menurunkan persepsi nyeri. Secara umum, cara yang efektif untuk menghilangkan nyeri adalah dengan mengarahkan pengobatan nyeri ketimbang ansietas (Smeltzer & Bare, 2002).
  6. Pola koping. Ketika seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah sakit adalah hal yang sangat tak tertahankan. Secara terus-menerus klien kehilangan kontrol dan tidak mampu untuk mengontrol lingkungan termasuk nyeri. Klien sering menemukan jalan untuk mengatasi efek nyeri baik fisik maupun psikologis. Penting untuk mengerti sumber koping individu selama nyeri. Sumber-sumber koping ini seperti berkomunikasi dengan keluarga, latihan dan bernyanyi dapat digunakan sebagai rencana untuk mensupport klien dan menurunkan nyeri klien.
Demikian tadi sahabat sedikit mengenai hal-hal yang berkaitan dengan nyeri dan semoga dapat berguna serta dapat memberikan manfaat.


Read more > Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri

Rabu, 20 Juni 2012

4 Herbal Penghilang Nyeri

Nyeri pada tubuh, pada sendi dan pada bagian mana pun dari tubuh adalah salah satu hal yang tidak nyaman untuk dirasakan. Semakin hebat rasa nyeri yang diderita oleh kita, maka akan makin sulit kita beraktivitas dengan baik. Pada postingan sebelumnya telah dijelaskan tentang konsep nyeri.

Karena itu, pada artikel ini kami akan mencoba untuk memberikan solusi alami untuk mengatasi nyeri, dan juga beberapa jenis obat herbal yang berupa beberapa makanan herbal yang bisa Anda coba untuk konsumsi dalam rangka melakukan pengobatan secara tradisional.

Herbal Untuk Menghilangkan Nyeri, obat-obatan herbal

Pengobatan Herbal apa saja yang dapat menghilangkan nyeri tersebut? Beberapa jenis macam obat herbal yang bisa digunakan untuk mengurangi rasa sakit di antaranya yaitu :
  1. Buah Anggur Merah. Anggur merah yang dimaksud di sini bukanlah minuman red wine yang memabukkan, melainkan buah anggur yang ditanam di tanah untuk dimakan, atau buah anggur merah. Buah anggur merah adalah salah satu herbal yang memiliki kandungan resveratrol yang cukup tinggi. Resveratrol adalah salah satu jenis anti oksidan yang membantu untuk menghambat enzim yang membuat degenerasi pada jaringan tubuh, yang mengakibatkan nyeri sendiri dan nyeri pada otot. Bagi Anda yang menderita sakit pinggang, ada baiknya juga untuk mencoba buah yang satu ini. Herbal penghilang nyeri yang satu ini menurut Rush University Medical Center, buah anggur dapat membantu untuk mencegah kerusakan pada kartilago yang merupakan salah satu penyebab sakit pinggang.
  2. Ginger (Jahe). Jahe tentunya bukanlah sebuah tanaman yang asing di Indonesia. Dan salah satu dari sekian banyak jenis obat tradisional di Indonesia. Herbal tradisional yang satu ini merupakan salah satu bahan alami yang banyak digunakan sebagai bumbu masak. Namun, ternyata manfaat jahe bukan hanya sebatas bumbu masak, karena jahe juga dapat dipakai untuk menghilangkan rasa nyeri pada tubuh. Herbal Jahe dapat membantu untuk menghilangkan sakit dengan cara menahan kenaikan jumlah prostaglandin yang merupakan salah satu penyebab nyeri dalam tubuh. Khasiat ini secara turun temurun sudah banyak diketahui dan digunakan di India. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Miami, para peneliti menemukan bahwa 2/3 dari pasien yang mengalami nyeri pada lutut merasakan bahwa nyeri yang diderita mereka berkurang setelah mengkonsumsi ekstrak jahe selama 6 minggu. Dosis yang disarankan adalah 500-1.000mg ekstrak jahe per hari. Dan jahe ini adalah salah satu jenis obat tradisional yang kita kenal dan merupakan warisan nenek moyang.
  3. Kacang Kedelai. Salah satu tanaman yang dapat dipakai untuk membantu menghilangkan nyeri adalah kacang kedelai. Tanaman yang satu ini juga banyak terdapat di Indonesia. Dari salah satu riset yang dilakukan Oklahoma State University ditemukan bahwa para penderita osteoarthritis yang mengkonsumsi 40g protein dari kedelai merasakan nyeri pada lutut mereka berkurang. Hal ini disebabkan karena kedelai mengandung isoflavon, sebuah zat yang memiliki sifat anti inflamasi (anti pembengkakan), yang membantu untuk mengatasi berbagai masalah nyeri pada sendi, terutama pada penderita osteoarthritis.
  4. Kopi (Kafein). Salah satu cara lainnya yang dapat dipakai untuk membantu mengurangi rasa sakit pada tubuh adalah dengan mengkonsumsi kopi, yang sudah menjadi minuman sehari-hari orang Indonesia. Mengapa kopi? Sebab kopi mengandung kafein yang terbukti dapat membantu untuk meningkatkan efek kerja berbagai suplemen yang dibuat untuk menghilangkan rasa nyeri (analgesik). Selain itu, kafein juga dapat meningkatkan ambang toleransi rasa sakit yang dimiliki tubuh. Para peneliti dari University of Georgia menemukan bahwa para pasien yang meminum dua gelas kopi setelah berolahraga berkurang rasa sakitnya hingga hampir 50%. Dan ini adalah salah satu manfaat kopi untuk kesehatan yang bisa kita dapatkan.
Pengobatan herbal adalah suatu jenis pengobatan yang menggunakan obat yang berasal dari tumbuhan yang diproses/ diekstrak sedemikian rupa sehingga menjadi serbuk, pil atau cairan yang dalam prosesnya tidak menggunakan zat kimia. Demikian adalah pengertian pengobatan herbal atau juga pengertian obat herbal itu sendiri. Karena dalam hal memberikan pengobatan dan penyembuhan secara menggunakan produk herbal ini juga semakin marak di Indonesia. Karena memang manfaat obat herbal bisa dirasakan oleh para penggunaannya.

Kesimpulan dan Saran
Demikian beberapa jenis makanan dan minuman herbal alami yang dapat Anda pergunakan untuk membantu menghilangkan rasa sakit yang diderita. Jadi, untuk Anda yang cenderung menghindari obat-obatan kimia sintetis untuk menghilangkan nyeri, pakai saja berbagai obat herbal penghilang nyeri alami yang sudah dijelaskan di atas untuk membantu menghilangkan rasa sakit yang Anda derita. Semoga dengan kita mengenal akan herbal untuk nyeri ini bisa berguna serta memberikan manfaat.
Semoga bermanfaat.

Tentang Penulis Tamu yaitu : Haryo Muslim Amanah, seorang penggemar dunia kesehatan dan dunia teknologi. Saat ini beliau aktif menulis berbagai artikel kesehatan dan mengelola web hliherbal.com
Read more > 4 Herbal Penghilang Nyeri

Kamis, 14 Juni 2012

Konsep Nyeri

Konsep Nyeri. Nyeri adalah perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Nyeri ini hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain, serta mencakup pola fikir, aktifitas seseorang secara langsung, dan juga perubahan hidup seseorang. Nyeri merupakan tanda dan gejala penting yang dapat menunjukkan telah terjadinya gangguan secara fisiologikal. Demikian sedikit pengertian dan konsep nyeri. Untuk kali ini Blog Keperawatan akan mencoba berbagi sedikit mengenai konsep nyeri ini dan semoga bisa memberikan manfaat.

Ada juga pengertian nyeri dari beberapa ahli diantaranya yaitu :
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial (Brunner & Suddarth, 2002)
Nyeri adalah sensasi ketidaknyamanan yang dimanisfestasikan sebagai penderitaan yang diakibatkan oleh persepsi jiwa yang nyata, ancaman dan fantasi luka (Kozier dan Erb, 1983)
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan atau potensial menyebabkan kerusakan jaringan (Perry & Potter, 2005)


Selanjutnya kita melangkah kepada penyebab dari nyeri. Penyebab nyeri diantaranya yaitu :
1. Trauma. Trauma ini juga terbagi menjadi beberapa macam. Penyebab trauma ini terbagi menjadi :
  1. Mekanik. Rasa nyeri yang diakibatkan oleh mekanik ini timbul akibat ujung-ujung saraf bebas mengalami kerusakan. Contoh dari nyeri akibat trauma mekanik ini adalah akibat adanya benturan, gesekan, luka dan lain-lain.
  2. Thermis. Nyeri karena hal ini timbul karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan akibat panas, dingin, misal karena api dan air.
  3. Khemis. Nyeri yang ditimbulkan karena adanya kontak dengan zat kimia yang bersifat asam atau pun basa kuat.
  4. Elektrik. Nyeri yang ditimbulkan karena adanya pengaruh aliran listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri yang menimbulkan kekejangan otot dan luka bakar.
2. Neoplasma. Neoplasma ini juga terbagi menjadi dua yaitu :
  • Neoplasma Jinak.
  • Neoplasma Ganas.
3. Gangguan sirkulasi darah dan kelainan pembuluh darah. Hal ini dapat dicontohkan pada pasien dengan infark miokard akut atau pun angina pektoris yang dirasakan adalah adanya nyeri dada yang khas.
4. Peradangan. Nyeri yang diakibatkan karena adanya kerusakan ujung-ujung saraf reseptor akibat adanya peradangan atau terjepit oleh pembengkakan. Contohnya adalah nyeri karena abses.
5. Trauma psikologis.

Setelah kita mengetahui akan penyebab dari nyeri pada konsep nyeri ini maka selanjutnya kita melangkah kepada klasifikasi nyeri.
Klasifikasi nyeri dibedakan menjadi :
1. Menurut Tempat Nyeri.
  1. Periferal Pain. Periferal pain ini terbagi menjadi 3 yaitu nyeri permukaan (superfisial pain), nyeri dalam (deep pain), nyeri alihan (reffered pain). Nyeri alihan ini maksudnya adalah nyeri yang dirasakan pada area yang bukan merupakan sumber nyerinya.
  2. Central Pain. Nyeri ini terjadi karena perangsangan pada susunan saraf pusat, spinal cord, batang otak.
  3. Psychogenic Pain. Nyeri ini dirasakan tanpa adanya penyebab organik, tetapi akibat dari trauma psikologis.
  4. Phantom Pain. Phantom Pain ini merupakan perasaan pada bagian tubuh yang sudah tak ada lagi, contohnya pada amputasi. Phantom pain timbul akibat dari stimulasi dendrit yang berat dibandingkan dengan stimulasi reseptor biasanya. Oleh karena itu, orang tersebut akan merasa nyeri pada area yang telah diangkat.
  5. Radiating Pain. Nyeri yang dirasakan pada sumbernya yang meluas ke jaringan sekitar.
2. Menurut Sifat Nyeri.
  • Insidentil. Yaitu sifat nyeri yang timbul sewaktu-waktu dan kemudian menghilang.
  • Steady. Yaitu sifat nyeri yang timbul menetap dan dirasakan dalam waktu yang lama.
  • Paroxysmal. Yaitu nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali dan biasanya menetap selama 10 – 15 menit, lalu menghilang dan kemudian timbul kembali.
  • Intractable Pain. Yaitu sifat nyeri yang resisten dengan diobati atau dikurangi. Contoh pada arthritis, pemberian analgetik narkotik merupakan kontraindikasi akibat dari lamanya penyakit yang dapat mengakibatkan kecanduan.
3. Menurut Berat Ringannya Nyeri.
  1. Nyeri Ringan yaitu nyeri yang berada dalam intensitas yang rendah.
  2. Nyeri Sedang yaitu nyeri yang menimbulkan suatu reaksi fisiologis dan juga reaksi psikologis.
  3. Nyeri Berat yaitu nyeri yang berada dalam intensitas yang tinggi.
4. Menurut Waktu Serangan.
  1. Nyeri Akut. Nyeri akut biasanya berlangsung singkat, misalnya nyeri pada fraktur. Klien yang mengalami nyeri akut pada umumnya akan menunjukkan gejala-gejala antara lain : respirasi meningkat, Denyut jantung dan Tekanan darah meningkat, dan pallor.
  2. Nyeri Kronis. Nyeri kronis berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama dan pada umumnya penderita sering sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan.
Selanjutnya melangkah pada patofisiologi nyeri.
Patofisiologi nyeri ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Reseptor nyeri disebut nosiseptor. Nosiseptor mencakup ujung-ujung saraf bebas yang berespon terhadap berbagai rangsangan termasuk tekanan mekanis, deformasi, suhu yang ekstrim, dan berbagai bahan kimia. Pada rangsangan yang intensif, reseptor-reseptor lain misalnya badan Pacini dan Meissner juga mengirim informasi yang dipersepsikan sebagai nyeri. Zat-zat kimia yang memperparah nyeri antara lain adalah histamin, bradikini, serotonin, beberapa prostaglandin, ion kalium, dan ion hydrogen. Masing-masing zat tersebut tertimbun di tempat cedera, hipoksia, atau kematian sel. Nyeri cepat (fast pain) disalurkan ke korda spinalis oleh serat A delta, nyeri lambat (slow pain) disalurkan ke korda spinalis oleh serat C lambat.

Serat-serat C tampak mengeluarkan neurotransmitter substansi P sewaktu bersinaps di korda spinalis. Setelah di korda spinalis, sebagian besar serat nyeri bersinaps di neuron-neuron tanduk dorsal dari segmen. Namun, sebagian serat berjalan ke atas atau ke bawah beberapa segmen di korda spinalis sebelum bersinaps. Setelah mengaktifkan sel-sel di korda spinalis, informasi mengenai rangsangan nyeri diikirim oleh satu dari dua jaras ke otak- traktus neospinotalamikus atau traktus paleospinotalamikus (Corwin, 2000 : 225).

Informasi yang di bawa ke korda spinalis dalam serat-serat A delta di salurkan ke otak melalui serat-serat traktus neospinotalamikus. Sebagian dari serat tersebut berakhir di reticular activating system dan menyiagakan individu terhadap adanya nyeri, tetapi sebagian besar berjalan ke thalamus. Dari thalamus, sinyal-sinyal dikirim ke korteks sensorik somatic tempat lokasi nyeri ditentukan dengan pasti (Corwin, 2000 : 225).

Informasi yang dibawa ke korda spinalis oleh serat-serat C, dan sebagian oleh serat A delta, disalurkan ke otak melalui serat-serat traktus paleospinotalamikus. Serat-serat ini berjalan ke daerah reticular dibatang otak, dan ke daerah di mesensefalon yang disebut daerah grisea periakuaduktus. Serat- serat paleospinotalamikus yang berjalan melalui daerah reticular berlanjut untuk mengaktifkan hipotalamus dan system limbik. Nyeri yang di bawa dalam traktus paleospinotalamik memiliki lokalisasi yang difus dan berperan menyebabkan distress emosi yang berkaitan dengan nyeri (Corwin, 2000 : 225).

Demikian tadi sahabat sedikit mengenai konsep nyeri dan dengan kita mengenal akan penyebab nyeri dan juga konsep nyeri ini akan bisa memberikan manfaat.
Read more > Konsep Nyeri
 
 
Copyright © Komokid
Blogger Theme by Blogger Designed and Optimized by Tipseo